Minggu, 12 Juni 2011

Laporan Agronomi Jagung (Zea Mays) - Acara 1


ACARA 1
JAGUNG (Zea mays. L)
I.       Tujuan
-          Memperaktekkan penanaman jagung dilapangan
-          Memperaktekkan cara peletakan pupuk pada tanaman jagung
-          Menghitung populasi tanaman/ha

II.      Dasar teori
Jagung merupakan tanaman semusim. Tanaman ini dapat tumbuh baik bila kebutuhan tanaman terpenuhi. Tanaman dalam kehidupannya memerlukan unsur hara agar dapat tumbuh lebih baik. Unusr hara dapat diperoleh dari dalam tanah yang berasal dari mineralisasi batuan induk maupun pelapukan bahan organik. Jumlah hara yang terkandung dalam tanah menunjukkan tingkat kesuburannya. Makin banyak jumlah unsur hara yang dibutuhkan tanaman, maka semakin subur tanah tersebut.
Didaerah yang memiliki kandungan hara sedikit, sehingga tidak tersedia bagi tanaman diusahakan agar unsur hara ditambah melalaui pemupukan. Pemupukan dilakukan dengan memberikan unsur hara kedalam tanah sehingga unsur hara tersebut tersedia bagi tanaman.
Pemberian pupuk sangat berpengaruh terhadap tanaman, terutama cara pemberiannya. Dalam praktik dilapangan pemberian pupuk dapat dilakukan dengan menugal, menyebar dan membuatnya dalam paritan. Ketiga cara pemberian ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Oleh karena itu perlu dilakukan percobaan agar dapat dimengerti kekurangan dan kelebihan masing-masing cara tersebut.
Penanaman tanaman jagung dilapangan harus memperhatikan jarak tanaman. Jarak tanam maksimum akan berpengaruh negatif kepada tanaman, sedangkan jarak tanam minimum, akan akan berpengaruh negatif. Jarak tanam yang baik adalah jarak tanam optimum.
Penerapan jarak tanam, selain berpengaruh terhadap penyerapan unsur hara dan ketersediaannya,juga berpengaruh terhadap populasi tanaman. Jarak tanam yang berbeda akan berpengaruh terhadap populasi tanaman. Oleh karena itu dalam praktik ini diharapkan mahasiswa dapat menghitung atau memperkirakan populasi tanaman yang ada.







III.    Bahan dan alat
Bahan yang digunakan dalam praktik ini adalah benih jagung manis, pupuk Urea, pupuk SP36, pupuk KCl, Insektisida dan fungisida.
Alat yang digunakan dalam praktik adalah cangkul, parang, alat tulis menulis, meteran, tugal dan timbangan.
IV.    Metode percobaan
Tempat  percobaan : Halaman belakang Kampus Faperta Unmul ( depan kantor jurusan          Perkebunan )
Waktu : Awal Maret sampai dengan Mei 2011
Cara kerja :
1.      Bersihkan lahan dari gulma dan kemudian buat guludan dengan ukuran 3m x 2m.
2.      Tanam benih jagung dengan jarak tanam 75cm x 25cm, sebelum ditanam benih jagung direndam lebih dulu dalam air ± 10 menit, pilih benih yang baik (tenggelam).
3.      Penanaman benih dilakukan dengan tugal, yaitu dengan membuat lubang pada tanah dengan menggunakan kayu tugal dengan diameter ± 5 cm dan kedalaman lubang tugal ± 3cm. Tiap lubang ditanam 3 butir benih,  kemudian diberi furadan ± 5 butir. Benih yang sudah ditaruh didalam lubang tanam, kemudian ditutup dengan tanah tipis-tipis.
4.      Berikan pupuk dasar dengan dosis 300 kg Urea/ha, 90 kg SP-36/ha dan 130 kg KCl/ha. Pemupukan dilakukan bersamaan saat tanam secara larikan dengan cara ± 5-7 cm disisi kiri kanan lubang tanaman (ketiga pupuk dicampur,kemudian pupuk ditempatkan dalam/dibuat larikan sedalam ± 5 cm). Pupuk Urea diberikan 2 x, yaitu pemupukan petama pada saat tanam 1/2  dosis pupuk urea ditambah dengan seluruh dosis pupuk SP-36 dan KCl, kemudian pemupukan kedua 1/2  dosis pupuk urea diberikan setelah tanaman berumur 30 hari setelah tanam, dengan cara larikan sejauh 10-15 cm diisi kanan kiri barisan tanaman. (setelah tanaman berumur 1 bulan lakukan pemupukan kedua khusus pupuk N dengan dosis 1/nya, yaitu 150 kg urea/ha.
5.      Pemeliharaan :
Ø  Lakukan penyiraman sekali sehari bila tidak ada hujan.
Ø  Jika benih tidak tumbuh lakuakan penyulaman. Penyulaman dilakukan 1 minggu setelah tanam dengan mnggunakan benih baru.
Ø  Penjarangan dialkukan saat tanaman berumur 2 minggu setelah tanam (mst), dengan cara menggunting tanaman. Setiap lubang tanam hanya disisakan satu tanaman yang sehat pertumbuhannya.
Ø  Penyiangan dilakukan setiap waktu, jika terlihat tumbuh gulma pada petakan tanaman dan sekitar lahan.
Ø  Pembumbunan dilakukan bersamaan saat pemupukan Urea yang kedua, yaitu 30 hari setelah tanam (hst), untuk mencegah agar batang tanaman tidak rebah.
Ø  Pengendalian HPT, dilakukan secara preventif, yaitu lakukan penyemprotan dengan menggunakan pestisida yang disediakan dengan konsentrasi yang paling rendah dengan interval penyemprotan 1 minggu sekali, dan dihentikan 1 minggu sebelum panen.
Ø  Perlakukan EM4, setelah tanaman berumur tiga minggu setelah tanam diberi EM4, dengan dosis/konsentrasi yang telah ditentukan. Cara pemberian,larutan EM4 disiramkan disisi kanan kiri barisan tanaman.
Ø  Macam perlakuan :
1.    m= Tanpa diberi larutan EM4
2.    m1  = Konsentrasi larutan 5 cc EM4 / 1 air
3.    m2  = Konsentrasi larutan 10 cc EM4 / 1 air
4.    m3  = Konsentrasi larutan 15 cc EM4 / 1 air
5.    m4  = Konsentrasi larutan 20 cc EM4 / 1 air
Ø  Perlakuan EM4 diulangi setiap 2 minggu sekali.
Ø  Dan panen.

V.     Pengamatan yang dilakukan
1.    Jumlah populasi (tanaman per)
Menghitung jumlah populasi tanaman per hektar, dengan cara ubinan/ semua tanaman dalam petak hasil.
2.    Tinggi tanaman  (cm)
Mengukur tingi tanaman mulai dari pangkal batag sampai ujung daun yang terpanjang saat tanaman berumur 2, 4, 6, 8, 10 minggu setelah tanam.
3.    Umur berbunga (hst)
Menghitung jumlah hari mulai dari waktu mulai tanam sampai 80% dari populasi tanaman dalam petakan telah mengeluarkan bunga betina dan bunga jantan.
4.    Umur panen (hst)
Menghitung jumlah hari dari saat tanam sampai panen jagung muda, dengan kriteria apabila biji jagung dipencet masih lunak dan mengeluarkan cairan berwarna putih susu.
5.    Panjang tongkol per tanaman (cm)
Setelah dipanendari tanaman sampel diambil  tongkolnya,  diukur panjang tongkol dengan kelobotnya dan panjang  tongkol  tanpa kelobotnya kemudian dirata-ratakan.
6.    Jumlah baris biji per tongkol (baris)
Setelah dipanen dari tanaman sampel diambil tongkolnya, dihitung jumlah baris biji per tongkol, kemudian dirata-ratakan.
7.    Hasil tongkol per petak hasil (kg)
Setelah dipanen, semua tongkol yang ada dalam petakan hasil ditimbang berat tongkol berkelobot dan  berat tongkol tanpa kelobot.
8.    Hasil tongkol per hektar (mg)
Tongkol yang telah ditimbang per petak hasil tersebut di atas, kemudian hasil penimbangan dikonversikan dalam hektar.
                                                      
Rumus : Hasil per hektar =      =  Mg/ha







PETAKAN
37,5 cm         75 cm                                                                                                37,5 cm
            X                           X                     X                     X                     X
1          25 cm       2                      3                      4                      5

X                           X                     X                      X                     X
            6                             7                      8                       9                     10
X                           X                      X                     X                      X
            11                         12                   13                   14                    15

X                           X                      X                     X                      X
            16                        17                   18                    19                    20
X                           X                      X                     X                      X
            21                        22                    23                   24                   25

X                           X                       X                     X                     X
            26                        27                    28                    29                   30

X                           X                       X                      X                     X
            31                        32                    33                      34                   35
37,5 cm
X                            X                      X                       X                     X
            36                         37                     38                     39                  40
                12,5 cm
 








































X = letak tanaman
Untuk variabel tinggi tanaman, panjang tongkol, jumlah baris biji, tanaman yg diukur adalah tanaman nomor 7, 13, 19, 27 dan 33 (lihat denah diatas).




VI.    Hasil Pengamatan
( terlampir )


VII.  Pembahasan
Dari pengamatan terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman jagung dibedakan dua fase yaitu: fase vegetatif dan fase generatif. Fase vegetatif dimulai dari fase kecambah dilanjutkan denagn fase vegetatif,akar batang daun yang cepat pada akhirnya pertumbuhan vegetatif menjadi lambat sehingga dinamai fase generatif,dalam fase vegatatif ini tanaman jagung membutuhkan banyak air. Fase generatif dinamai dengan pembentukan primordia. Proses pembungaan yang mencakup pristiwa penyerbukan dan pembuahan. Penyerbukan yang terjadi pada tanaman jagung biasannya di bantu dengan angin, yaitu dengan cara menebarkan tepung sari kemudian menjatuhkan pada tangkai. Letak bunga jantan dan bunga betina tidak berada di satu tempat,bunga jantan pada ujung batang yang sedang berbunga, sedangkan bunga betina berada dipertengahan batang atau tongkol.

Variabel yang    diamati
1. Tinggi tanaman
Perlakuan dalam pemberian jumlah bibit yang berbeda per lubang tanam pada praktikum ini, menyebabkan terjadinnya perbedaan dalam pertumbuhan dan perkembangan. Hal ini dapat terlihat pada tanaman jagung petak pertama yang berisi satu tanaman perlubang dan petak kedua yang berisi duas tanaman per lubang. Tanaman jagung pada petak pertama tumbuh lebih tinggi dan subur dibandingkan dengan tanaman jagung pada petak kedua, itu terjadi karena pada petakan kedua terjadi persaingan dalam memenuhi kebutuhan akan unsur hara, air, cahaya, dan unsur hara lainnya.
Tanaman cendrung lebih tinggi pada petakan pertama karena persingan yang terjadi tidak bagitu besar,namun ada juga tanaman pada petak kedua yang lebih subur dibanding dengan tanman pada petak pertama. Ini terjadi karena faktor –faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman jagung seperti ketidakrataan dalam pemberian pupuk, ataupun kandungan unsurhara yang berbeda.

2. lebar daun ke 6
Daun ke 6 adalah daun yang tumbuh pada lamina batang jagung ke 6, di hitung dari daun yang paling pertama kali keluar saat berkecambah. Daun ke 6 merupakan indikator kesuburan tanman dan pada daun ini bentuk daunnya sudah sempurna, pengamatan pada daun ke 6 ini, dimulai pada minggu ketiga setelah tanam. Dari pengamatan, terlihat bahwa daun ke 6 pada petakan pertama memiliki lebar daun lebih besar daripada petakan kedua. Terbukti bahwa perlakuan jumlah bibit per kubang tanam mempengaruhi lebar daun ke 6.
Persaingan yang terjadi antara dua tanaman yang berada dalam satu lubang memepengaruhi kemampuan akar dalam penyerapan unsur hara, sehingga unsur hara yang diserap oleh tanaman menjadi sedikit karena terbagi dua. Selain itu, kemampuan tanaman untuk menyerap sinar matahari untuk proses fotosintesis jadi ikut berkurang karena terjadi persaingan pada daun.ketika daun daun ke 6 sudah menguning, dan mulai layu, ini menandakan bahwa fase vegetatif telah berakhir dan dimulainnya fase generatif.           

3.tumbuhnya malai
Tumbuhnya malai pada ujung tanaman jagung merupakan indikator dimulainya fase generatif,mulsi bunga jantan yang tumbuh pada ujung tanaman jagung. Bunga jantan ini yang kemudian akan jatuh pada tangkai sari tongkol jagung dan proses pembentukan biji akan    berlangsung. Pertumbuhan malai tidak seragam, hal ini disebabkan ole tingkat kesuburan yang berbeda. Jika tanaman subur maka malai akan tumbuh lebih cepat tepat poada waktunya, tetapi malai akan tetap tumbuh walau tanaman tidak subur. Pupuk P mempengaruhi fase generatif tanaman. Seperti pertumbuhan malai dan tongkol jagung pada pelepah daun. Jika tanaman kekurangan unsur P, maka pertumbuhannya terutama fase generatif akan terhambat,sehingga tonkol jagung akan muncul dengan ukuran yang lebih kecil.



VIII.    Kesimpulan dan saran
VII.1. kesimpulan
Jagung yang di tanam sebanyak 2-3 perlubang menghasilkan lebih baik dalam pertumbuhan maupun hasil dan juga bahwa tanaman itu juga dapat tumbuh normal apabila tiap tanaman itu mendapat perlakuan yang sama dari segi pemupukan penyiraman dan lain – lain

VII.2. saran
Dalam laporan praktikum ini disarankan bahwa agar lebih lanjut dilakukan penelitian yang dalam , dan laporan ini sebagai bahan dalam pembudidayaan jagung selanjtnya.


IX.       Lampiran
-          Tabel pengamatan tanaman jagung ulangan IV.
-          Tabel pengamatan tanaman jagung ulangan III.
-          Tabel pengamatan tanaman jagung ulangan II.
-          Tabel pengamatan tanaman jagung ulangan I.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar