Minggu, 12 Juni 2011

Laporan Agronomi Pembuatan Bokashi - Acara 4

ACARA 4
PEMBUATAN BOKASHI

I.      Tujuan
Mengetahui teknik pembuatan kompos dengan aktivator EM4 (bokashi) dari berbagai bahan organik segar dan kering

II.    Dasar Teori
Kompos merupakan hasil fermentasi atau dekomposisi dari bahan-bahan organic seperti tanaman, hewan, atau limbah organic lainnya. Kompos yang digunakan sebagai pupuk disebut pupuk organic karena bahan penyusunnya terdiri dari bahan-bahan organic. Sifat kompos adalah : 1) memperbaiki struktur tanah, 2) memperbesar daya ikat tanah berpasir, 3) meningkatkan daya ikat air pada tanah, 4) memperbaiki drainase dan tata udara dalam tanah, 5) mempertinggi daya ikat tanah terhadap zat hara, 6) membantu pelapukan bahan mineral, 7) memberi ketersediaan bahan makanan bagi mikroba, 8) menurunkan aktivitas mikroorganisme yang merugikan.
Larutan Effective Microorganism 4 (EM4) ditemukan pertama kali oleh Prof. Dr. Teruo Higa dari Universitas Ryukyus Jepang dengan kandungan mikroorganisme sekitar 80 genus. Mikroorganisme tersebut dipilih yang dapat bekerja secara efektif dalam memfermentasikan bahan organik. Dalam proses fermentasi bahan organik, mikroorganisme akan bekerja dengan baik apabila kondisinya sesuai, yaitu apabila dalam kondisi anaerob, pH rendah (3-4), kadar gula tinggi, kadar air 30-40%, dan suhu sekitar 40-50oC.  
Kompos yang dihasilkan melalui proses fermentasi dengan pemberian EM4 dinamakan BOKHASI. Kata BOKHASI diambil dari bahasa Jepang yang artinya bahan organik yang terfermentasi.


III.   Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah : Bahan organik segar/kering, pisau, dedak, sekam, EM4, gula, air, polibag tanpa lubang, pengaduk, terpal, timbangan, botol aqua bekas 1500ml.   






IV.  Metode Percobaan
Tempat percobaan : lab Agronomi OECF dan lapangan parkir OECF
Waktu : Jum’at, 25 Maret 2011, jam 14.00wita
PEMBUATAN BOKHASI
 
Cara Kerja:














Oval: Masukkan polibag, tutup rapat, lakukan pembalikan bila campuran bersuhu tinggi
 























Bahan organik :
A. Kelompok 1,2,3,4               : sampah dapur (40 kg), dicacah
B. Kelompok 5,6,7,8               : sampah daun kering (40 kg), dicacah
C. Kelompok 9,10,11,12         : daun lamtoro segar (40 kg), dicacah
D. Kelompok 13,14,15,16       : daun enceng gondok segar (40 kg), dicacah
E. Kelompok 17, 18, 19, 20    : daun alang-alang segar (40 kg), dicacah
F. Kelompok 21, 22, 23, 24    : serbuk gergaji (40 kg), dicacah
G. Kelompok 25, 26, 27, 28    : sampah kulit buah (40 kg), dicacah




CARA PEMBUATAN LARUTAN EM4
Masukkan 15 ml EM4 pekat ke dalam botol aqua bekas 1500ml, beri gula ¼ sendok teh, beri air hingga leher botol, kocok hingga rata.

V.    Pengamatan yang dilakukan
1.    Lakukan pengecekan suhu setiap hari, bila panas lakukan pembalikan
2.    Amati perubahan bahan organik pada minggu ke-2 (8 April 2011), ke-4 (22 April 2011), ke-6 (6 Mei 2011)
Tabel pengamatan
No
Jenis Bokasi
PENGAMATAN
Kondisi Awal
Minggu ke II
Minggu ke IV
Minggu ke VI
1.
Sampah Dapur
(1-4)
Bahan organik belum hancur, warna masih terlihat terang/segar dan belum berbau.
Bahan organik telah layu, warna kecoklatan dan berbau menyengat.
Bahan organik telah hancur sebagian, warna hitam dan bau sedikit berkurang.
Bahan organik telah hancur semua (mengembur), warna hitam gelap dan tidak berbau.
2.
Sampah Daun Kering
(5-8)
Bahan organik belum hancur, warna masih terlihat terang dan tidak berbau.
Bahan organik sebagian hancur,warna belum mengalami perubahan dan berbau menyengat.
Bahan organik mulai hancur, warnanya sedikit gelap dan berbau menyengat.
Bahan organik mulai menyatu dan teksturnya hancur, warnanya gelap pekat, tidak panas dan tidak berbau.
3.
Daun Lamtoro Segar
(9-12)
Bahan organik belum hancur, warna masih terlihat terang dan baunya masih menyengat.
Bahan organik sudah mulai layu, berubah warna kecoklatan dan baunya maasih menyengat.
Bahan organik sudah mulai hancur sebagian, warnanya sedikit gelap dari minggu sebelumnya dan bau menyengat sedikit berkurang.
Bahan organik hancur, warna hitam, gembur, tidak panas dan tidak berbau.
4.
Enceng Gondok
(13-16)
Bahan organik belum hancur, warna masih terlihat terang dan baunya masih terasa menyengat.
Bahan organik sudah mulai hancur sebagian, warna sedikit gelap dari minggu sebelumnya dan bau menyengat sedikit berkurang.
Bahan organik hancur, warna hitam, gembur, tidak panas dan tidak berbau.
5
Alang-alang
(17-20)
Bahan organic belum hancur warnanya masih berwarna hijau,baunya menyengat
Bahan organic agak layu sebagian namun masih ada yang belum layu sempurna,dari segi namun telah mengeluarkan hifa  warna berubah menjadi kekuningan.
Bahan organic tersebut mengeluarkan hifa(jamur),
masih sama dengan minggu-minggu yang lainnya warnanya berubah kecoklatan. Bau dari bahan organic tersebut
B ahan organic berubah warna menjadi coklat pekat sampai pada akhir pengamatan dimana bahan organic tersebut dari segi warna dan bentuk serta yang lain-lain berubah.
6
Serbuk gergaji
Belum ada perubahan
Belum terjadi perubahan warna coklat,bersuhu tinggi
Belum hancur sempurna,
Suhu sedang, berbau, warnanya kecoklatan
Belum juga hancur sempurna, warnanya coklat kehitaman,
suhu normal, dan lembab.

7
Sampah buah





























VI.       Pembahasan
Bokashi adalah pupuk kompos yang dihasilkan dari proses fermentasi atau peragian bahan organik dengan teknologi EM4 (Effective Microorganisms 4). Keunggulan penggunaan teknologi EM4 adalah pupuk organik (kompos) dapat dihasilkan dalam waktu yang relatif singkat dibandingkan dengan cara konvensional. EM4 sendiri mengandung Azotobacter sp., Lactobacillus sp., ragi, bakteri fotosintetik dan jamur pengurai selulosa. Bahan untuk pembuatan bokashi dapat diperoleh dengan mudah di sekitar lahan pertanian, seperti jerami, rumput, tanaman kacangan, sekam, pupuk kandang atau serbuk gergajian. Namun bahan yang paling baik digunakan sebagai bahan pembuatan bokashi adalah dedak karena mengandung zat gizi yang sangat baik untuk mikroorganisme.

VII.      Kesimpulan dan Saran
Bokashi adalah sebuah metode pengomposan yang dapat menggunakan starter aerobik maupun anaerobik untuk mengkomposkan bahan organik, yang biasanya berupa campuran molasses, air, starter mikroorganisme, dan sekam padi. Kompos yang sudah jadi dapat digunakan sebagian untuk proses pengomposan berikutnya, sehingga proses ini dapat diulang dengan cara yang lebih efisien. Starter yang digunakan amat bervariasi, dapat diinokulasikan dari material sederhana seperti kotoran hewan, jamur, spora jamur, cacing, ragi, acar, sake, miso, natto, anggur, bahkan bir, sepanjang material tersebut mengandung organisme yang mampu melakukan proses pengomposan.
Umumnya pengomposan berlangsung selama 10-14 hari. Kompos yang dihasilkan akan terlihat berbeda dengan kompos pada umumnya; kompos bokashi akan terlihat hampir sama dengan sampah aslinya namun lebih pucat. Pembusukan akan terjadi segera setelah pupuk kompos ditempatkan di dalam tanah. Pengomposan bokashi hanya berperan sebagai pemercepat proses pembusukan sebelum material organik diberikan ke alam.

VIII.    Daftar Pustaka
-       Riyanto, soeharti, dkk, “dasar-dasar agronomi”, faperta unmul, 2006, samarinda.
-       FEATI/P3TIP Kab. Sinjai Prov. Sulawesi Selatan.
-       Anonim.Cara Praktis Membuat Kompos.Jakarta:Agromedia.2007.58 halaman.

1 komentar:

  1. gan, gambarnya kurang jelas. bisa d jelalsin gak ? thx

    BalasHapus